Label

Tampilkan postingan dengan label Cerita Mini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Mini. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 April 2019

Cermin #26

Pagi itu rintik ringan mengiringi prosesi keberangkatan. Mentari menyapa teduh, awan bernyanyi lirih. Satu persatu langkah kaki memasuki ruang kabin. Kiranya semua siap landas, tiga pemuda dengan rompi hijau dan penutup telinga bersigap. Dari dalam ruang kemudi, sang pilot memberi isyarat. Roda pun menggelinding menuju landasan. Dalam rintik yang menderas, seragam yang basah, ada yang membuat seorang pemuda tak beranjak melambai walau tugasnya tlah usai. Sebuah senyuman yang tak dapat ia temui lagi.

Senin, 02 November 2015

Cermin #25 : Manusia Kanak-kanak

Tangannya terus bergerak seakan haus akan coretan. Jemarinya meliuk lincah mengikuti lengkungan yang dibuatnya di atas kertas. Tidak banyak warna yang tertoreh, hanya hitam pekat. Sayang kakinya tak sanggup mengikuti kegesitan imaji yang sudah tak sabar dituangkan, ditumpahkan, dipersembahkan. Layaknya seorang hamba yang siap berkorban jiwa raga untuk Penciptanya. Layaknya kekasih yang selalu menjaga kala malam, mencinta sebelum fajar sekaligus mendoa sedalam-dalamnya. Cahaya ruang itu kemudian berpendar, butir-butirnya membutakan kedua mata kami. Sedang lelaki tua itu telah pergi. Dan di ujung dermaga, kami harus menanti...

(untuk Pak Raden)

Minggu, 01 November 2015

Cermin #24 : Membaca Enam Tanda

Selalu ada cara untuk memahami ayat-ayat-Nya. Di ruang tamu yang berukuran tiga kali tiga, delapan anak duduk melingkar dengan menyisakan satu tempat kosong. Tak lama kemudian guru mereka datang dan mengucap salam. Mereka memanggilnya ummi. Kedatangannya menggenapi lingkaran itu menjadi utuh. Ummi mulai membuka Al-Quran yang lembarannya sudah mulai kekuningan. Dengan dipimpin oleh ummi, mereka pun belajar mengaji bersama, membaca huruf demi huruf, ayat demi ayat, surat demi surat. Mereka membaca dengan lantang dan jelas, walau bukan dengan kedua mata mereka.

Minggu, 14 Juni 2015

Cermin #23 - Pesawat Kertas

Tepat sebelas malam di depan jendela kamar, tangannya masih asyik memainkan pesawat kertas, lalu diterbangkannya hingga tergeletak dan berserakan tak terhitung jumlahnya. Tak ada yang tau lantaran mengapa matanya tak kunjung terpejam. Yang dia tau, satu kehadiran bisa menggantikan ribuan kertas hijau, yang datang beserta sepucuk surat terakhir.

Selasa, 14 Januari 2014

Cermin #22 - Tanpa Batas

Pagi itu berjalan seperti biasa, sampai seorang perempuan tua bermata satu datang ke rumah. Anak-anak ketakutan, hingga aku mengusirnya meski dia adalah ibuku sendiri. Pada suatu reuni teman lama, kudengar ibu telah meninggal. Dan tiba-tiba saja penglihatan, pendengaran, dan hati seperti lemari besi yang dibuka secara paksa. Oleh sepucuk surat yang berisi bagaimana aku bisa melihat indahnya dunia dengan dua mata.

Minggu, 20 Oktober 2013

Cermin #21 - The Masterpiece

Ada yang memperlihatkan wajahnya, ada yang menutup tirainya, ada yang mengetuk-ngetuk dahinya, begitu juga ada yang menyeka air matanya. Sudah tiga puluh menit pertunjukan berakhir, gedung sudah sepi. Namun di rumah-rumah, di trotoar-trotoar, di mimpi-mimpi, delapan ratus lidah, mencoba menghela dan mencerna, bagaimana hujan menyeka duka tentang daun yang gugur demi daun lagi.

Rabu, 16 Januari 2013

Cermin #20

Sungai itu mengalir tenang seperti biasanya, seolah menunjukkan keramahan alam di antara kayu dan plastik. Seorang anak berdiri, menatap kosong di pinggirnya menikmati dinginnya hujan di atas atap rumahnya.

Rabu, 03 Oktober 2012

Pertemuan Ruh

Pagi ini seekor shetland terluka di salah satu kakinya, jalannya nampak pincang. Ia berjalan tertatih dengan sesekali menyalak lirih. Belasan orang di persimpangan, lalu lalang, ada yang menoleh, atau sekedar mengamati. Hingga seorang kakek dengan mata sayu menghampiri, menawarkan segelas air putih untuk lukanya..

Minggu, 04 Desember 2011

Cermin #18

Jumat mendung, buku itu tampak masih kokoh dihimpit buku yang lain. Bangkit sejenak dari duka, membalik lembar demi lembar. Teringat tentang perdebatan sengit, yang berakhir dengan kutinggalkannya buku itu untuk kakek tercinta. Berharap sebuah kejaiban terjadi sebelum ajal menjemput. Ya, sebuah usaha dan permohonan untuk mengubah keadaan. Itulah hidayah, lalu kututup rapat-rapat buku itu sambil berbisik, Engkau Yang Maha Mengetahui, Tuhan.

Selasa, 25 Oktober 2011

Cermin #17

Roy anak yang cukup bandel. Nasehat dari ayah ibunya pun tak ada yang mempan. Setiap perintah selalu dibantahnya. Hingga ia bertanya-tanya mengapa sapi selalu mengangguk ketika berjalan. Ayah ibunya hanya bisa tersenyum sambil menggeleng.

Kamis, 13 Oktober 2011

Cermin #16

17 Agustus 2011, ini hari pertama kedatangannya bertugas di perbatasan. Kopral Rori, tampak sekali semangat nasionalisme yang menyala dari korneanya. Langkahnya yang tegas menggetarkan tapal pemisah kedua negara. Tapi hatinya jauh lebih bergetar, ketika mendengar jawaban tentang merah putih yang tak berkibar : "Ya, yang merdeka itu kan hanya Jawa saja".

Rabu, 12 Oktober 2011

Cermin #15

Kancil, seorang anak, tinggal di perbatasan. Tiang di rumahnya merah putih. Berangkat setiap pagi ke sekolah, menyeberang sungai dan penjaga. Sering menyanyi lagu kebangsaan, tapi bukan Indonesia Raya.

Selasa, 27 September 2011

Cermin #14

Malam ini tak ada bintang seperti biasa. Tertutup oleh neon jingga, mengarah ke sudut ini, sedang aku tak mampu berpindah. Ngengat dan jangkrik ingin menghibur, tapi sia-sia. Malam pertama, di balik jeruji, berharap masih bisa melihat cahaya-Nya. Apa mungkin menghapus darah dengan air mata?

Sabtu, 24 September 2011

Cermin #13

Ledakan yang cukup memekakkan telinga. Sopir langsung membuka pintu samping dan depan. Pun ada yang memecahkan kaca dalam keadaan darurat ini. Semua harus segera keluar. Beberapa anak muda terjatuh, seorang ibu pingsan, seorang kakek menggedor pintu bus lain yang lewat, menyelamatkan diri. Semua PANIK!

Tak ada asap, hanya sebuah ledakan angin dari pintu bus otomatis. Korban luka dan trauma berjatuhan.

Rabu, 21 September 2011

Cermin #12

"Tak perlu kau khawatir Ibu, anak laki-lakimu ini sudah besar. Sudah saatnya Ibu duduk manis, biarlah aku yang menjagamu kini. Membasuh kaki, mengusap keringat, menampung air mata, sebelum aku merantau. Menemui takdir yang sudah dijanjikan Tuhan untukku."

Firasat Ibu, adalah pertanda Tuhan. Keyakinan anak laki-laki, adalah takdir Tuhan. Ibu yang tak siap kehilangan, anak yang harus melangkah.

"Ini, bakti terakhirku, Ibu."

Cermin #11

 Pikiranku semakin jengah, setiap pilihan tempat makan selalu ditolaknya dengan berbagai alasan. Tak mau yang murah, tak mau yang mahal, pun tak mau yang sederhana. Tak habis pikir lagi apa mau perempuanku ini. Segera ku menepi, diam. Ku pandang matanya, sebuah isyarat, hanya kami yang tahu. Dia.. tersenyum..

Selasa, 20 September 2011

Cermin #10

Tak banyak yang bisa dilakukan pelukis selain mengalami, berimajinasi, kemudian menggores pada kanvas. Seorang kurator kagum, tertarik membeli, harga tak jadi soal, lalu bertemu sang pelukis. Kurator bertanya, bagaimana dia bisa melukis sebagus itu. Pelukis itu lalu mengajaknya keluar, berhenti di suatu tempat, lalu menunjuk pada dua buah batu nisan.

Cermin #9

Penantian di atap rumah. Ku tunggu waktu hingga tepat pukul 12 malam. Bersama bintang, pejamkan mata, haturkan keinginan, berharap ada bintang jatuh. Semoga ada yang seperti Ursa, Lyra, Cygnus dan Corvus yang setia pada Virgo. Ayah Ibu pun sudah tak mampu lagi menemani. Cukup lama aku terpaku hingga teriakan, cacian, tepung, dan telur busuk nyaris membunuhku seketika itu juga. BRENGSEK!!!

Ya, mereka teman-temanku...

Cermin #8

Akulah teman setiamu di sini, kutunggu hingga waktu itu tiba, dan sembari ku kirim anak-anakku padamu. Mereka selalu berbisik, terkadang menunjuk, bahkan tak jarang memeluk. Begitu hangat dan romantis. Kukirim surat cinta ini hanya untukmu.

Jahannam, 19 Nopember 2011

Tertanda,
- Yang Terkutuk oleh Tuhan -

Cermin #7

Anak itu periang, namun nilainya di kelas menurun akhir-akhir ini. Sering dimarahi karena tak jarang beranjak dari tempat duduknya di belakang, untuk melengkapi catatan. Sang ibu pun melarangnya bermain, pengawasan diperketat disertai beberapa cubitan kecil yang cukup membuatnya menangis. Berlangsung beberapa bulan, hingga akhirnya sebuah kacamata membuat anak itu diam, tak beranjak dari kamarnya, malu.