Label

Rabu, 08 Agustus 2012

Biru

Tuhan, duduklah di sampingku
kan kuceritakan segala gundah dan resah
tentang keindahan dalam kabut senja
tentang bagaimana seekor burung
terbang melintang ke timur dan barat
lalu kembali duduk bersimpuh
tuk sekedar meletakkan ranting
atau memandang langitmu
yang tak habis-habisnya bernyanyi

Jakarta, 9 Agustus 2012
- rhariwijaya -

Rabu, 25 Juli 2012

Doa Cakrawala

Tuhan kami..

Ajarkan tuk slalu melihat tanpa dilihat..
Mendengar tanpa didengar..
Menjaga tanpa dijaga..
Mengasihi tanpa dikasihi..
Memimpin tanpa diagungkan..

Karna kami tlah merendahkan seolah yang tertinggi..
Mengecilkan seolah yang terhebat..
Memanjakan seolah satu-satunya..
Menyalahkan seolah segalanya mesti sempurna..
Membutakan seolah Kau tiada..

Maka cukupkan kami dengan cinta kasih-Mu..

Jakarta, 20 Juli 2012 (sehari menjelang Ramadhan)
- rhariwijaya -

Jumat, 18 Mei 2012

Kata-kata Angin

cinta..
bukan reaksi kimia atau hormonal
bukan pula rumus turunan
atau nyanyian dewa dewi
dia hadir tanpa sapa atau pertanda
menjaga waktu terpejam
membuka yang tertutup
menderas walau kemarau

tentang kata-kata angin
kenangan dari negeri awan
tak paham makna
bukan berarti mengingkari
tak paham makna
bukan berarti mengingkari
aku tak mengerti

lalu aku..
mengatup kelopak keyakinan
mencerna setiap sabar
bersiap segera mekar
pada waktu kau tersenyum
indah..

namun mendung dan gagak hitam
masih bertengger di masa depan
yang harus kita lalui nanti

jikalau keringat masih mengucur
bagaimana bisa ku bersihkan diri
jikalau kaki masih membeku
bagaimana bisa ku berlari
jikalau tangan masih menggenggam
bagaimana bisa ku memelukmu
sayang..

sampai di sini..

aku                                menyerah
            untuk
                         berdiri   
kembali
                bersama
engkau                      yang                          memandangku
             dari balik                  lubang kunci
pintu                      menuju
         kesempurnaan                               Ilahi


Jakarta, 19 Mei 2012
- rhariwijaya -

Jumat, 23 Maret 2012

Tanda Manusia

aku mendengar orang menyanyi
tentang kesucian cinta
tapi dia gemar berdusta

aku melihat orang melukis
tentang keindahan kalbu
tapi dia menjadi larut

aku menyaksikan orang berakting
tentang karakter seribu wajah
tapi dia terlalu asyik

aku tersentuh orang berkhotbah
tentang cahaya keilahian
tapi dia juga berkata khilaf

aku menikmati orang berpuisi
tentang kejujuran hati
tapi dia malah tersingkir

aku bersama orang berpikir
tentang prosedur dan efisiensi
tapi dia justru menelan ludahnya

aku memandang cermin
memejam diri dan kekosongan
mengusut rahasia demi rahasia
tanda-tanda manusia

Jakarta, 23 Maret 2012
- rhariwijaya -

Aku, Ruang dan Waktu

di mana,

ruang untuk bertanya
tentang kejujuran

ruang untuk berlari
dari kesadaran

ruang untuk berbuat
tanpa kepedulian

ruang untuk beradu
kumis etalase

ruang untuk memahat
topeng kepalsuan

ruang untuk kembali
dalam rintihan


kapan,

waktu yang menjamu
deodoran kaki lima

waktu yang menjelma
serigala domba

waktu yang menjalar
syaraf nadi klakson

waktu yang menjajal
nyali atau nilai

waktu yang menjarah
kemesraan seribu malam

waktu yang menjalin
kekosongan lamunan


aku di sini,

bertanya dan menjamu
berlari dan menjelma
berbuat dan menjalar
beradu dan menjajal
memahat dan menjarah
kembali dan menjalin

dan kamu?

Jakarta, 19 Maret 2012
- rhariwijaya -

Rabu, 07 Maret 2012

Maka Aku

aku pengembara
maka mengembaraku
aku penyair
maka menulisku
aku pemikir
maka khayalku
aku penyanyi
maka suaraku
aku pemimpi
maka mendoaku
aku penyapa
maka tanyaku
aku pengusik
maka tawaku
aku pencinta
maka birahiku

menjelajah yang tak terdefinisi
mencatat gejala tak bertuan
merumuskan masalah tak berujung
membaca ayat-ayat realita, lantang

oh mimpi panjang ini pelukku
mencerna semua tanya hadirmu
menggelitik sisi-sisi sensitif
melumat habis desah malam, bersama

Jakarta, 7 Maret 2012

- rhariwijaya -

Kamis, 16 Februari 2012

Simulacra Loteng Tua

ngomong-ngomong jam berapa sekarang?
oh, masih malam rupanya
berarti aku masih punya banyak waktu
karna esok pagi ku harus bercinta
bercinta dengan mentari
bercinta dengan hujan
jadi mari kita cukupkan malam ini saja

sebentar, sebenarnya aku ini siapamu?
dan kau itu siapaku?
yang ku ingat kita tak saling kenal
hingga kau datang dan duduk di depanku
tanpa isyarat, tanpa tanda-tanda

ya, aku ingat perdebatan itu
kata manis yang sekaligus pedas
menghantam imaji menelan makna
menghunus ego mengagungkan kebenaran

lalu aku bertanya,
kebenaran yang mana?

kau terdiam dan tertunduk
mencari solusi yang manusiawi
sedang aku melihat Izrail
tepat satu inchi dari pundakmu
keringat yang mulai menjerit
tak sabar menunggu kata dalam kamus
menjadi berwaktu dan bercinta

tapi kau masih di sana
dengan tatapan kafilah buta
memberiku satu lagi tanda tanya :
untuk apa kau bertahan?

dan kau jawab :
untuk siapa

loteng tua ini meringis
tak sanggup lagi menampung
dua tiga pemuda berdansa
berbisik sekaligus mengusik
menangis sekaligus mendesis
mengacaukan teorema romansa

tapi aku masih tak percaya
persamaan hanya pemanis kopi hitam
perbedaan adalah alkohol seribu warna
itulah paradigma antara kita
pembatas yang jelas di depan altar

tiba-tiba kau berdiri
menarik lenganku keluar loteng
sedang di luar gerimis menghujam
kau tumpahkan jejak jiwa
menyeret dan menyapu air mata
muntahan, cacian, hingga tamparan
aku jatuh dan tersiksa

itu masih belum cukup
kau ambil segenggam lumpur
perlahan namun tegas
kau usapkan merata pada wajah kita

aku berontak : kau pikir kita ini siapa?

aku kembali masuk
membasuh lumpur yang membusuk
di dalam loteng tua
kita berkisah