Label
- Astro (1)
- Case (3)
- Catatan (18)
- Cerita Mini (26)
- Cerpen (5)
- Enerzya (1)
- Kontemplasi (3)
- My Quotes (11)
- Puisi (28)
Senin, 01 April 2019
Cermin #26
Pagi itu rintik ringan mengiringi prosesi keberangkatan. Mentari menyapa teduh, awan bernyanyi lirih. Satu persatu langkah kaki memasuki ruang kabin. Kiranya semua siap landas, tiga pemuda dengan rompi hijau dan penutup telinga bersigap. Dari dalam ruang kemudi, sang pilot memberi isyarat. Roda pun menggelinding menuju landasan. Dalam rintik yang menderas, seragam yang basah, ada yang membuat seorang pemuda tak beranjak melambai walau tugasnya tlah usai. Sebuah senyuman yang tak dapat ia temui lagi.
Kamis, 19 Juli 2018
Jelaga Tua
apakah hujan yang membuat kita
tersungkur dalam kemahsyuran
kala kelapangan menyimpan rindu
yang menghujam kala terpejam
apakah dingin malam yang meredam kelam
sang penuntun dalam gelap
hingga kita berdiri tegak menghadap
melindungi dari senyapnya tatap
apakah terik turut menjamu
kehadiran kita yang semu
pun mengukir kilatan memori
senyampang nyawa masih terjaga
nyalakanlah jelaga itu
biarkan segala tanya membara
meski hitamnya mewarnai jubahmu
ku ingin memanja sejenak
dalam jaringmu yang tak sudah
kita ada di sana kawan
di tengah gaungan air dan api
di sudut paralaks ego dan empati
di sangkar minyak kasturi
mungkin kau tlah melupakan
apa yang tak ingin kau ingat
maka kututup rapat-rapat
tak kubiarkan celahnya membuka tabirmu
hingga perjalanan kita usai
dan menunggu tuk kembali
pulang...
Palembang, 19 Juli 2018
- rhariwijaya -
tersungkur dalam kemahsyuran
kala kelapangan menyimpan rindu
yang menghujam kala terpejam
apakah dingin malam yang meredam kelam
sang penuntun dalam gelap
hingga kita berdiri tegak menghadap
melindungi dari senyapnya tatap
apakah terik turut menjamu
kehadiran kita yang semu
pun mengukir kilatan memori
senyampang nyawa masih terjaga
nyalakanlah jelaga itu
biarkan segala tanya membara
meski hitamnya mewarnai jubahmu
ku ingin memanja sejenak
dalam jaringmu yang tak sudah
kita ada di sana kawan
di tengah gaungan air dan api
di sudut paralaks ego dan empati
di sangkar minyak kasturi
mungkin kau tlah melupakan
apa yang tak ingin kau ingat
maka kututup rapat-rapat
tak kubiarkan celahnya membuka tabirmu
hingga perjalanan kita usai
dan menunggu tuk kembali
pulang...
Palembang, 19 Juli 2018
- rhariwijaya -
Jumat, 09 Juni 2017
Dua Puluh Sembilan
Hidup tak pernah mudah
Ketika berpikir mampu mengatasinya namun
hidup selalu menantang dengan pilihan
membakar pikiran dan kesabaran
Masa lalu bukan lagi milik kita
namun kegelapan selalu bisa tergantikan
apa yang terbenam hari ini akan terbit esok hari
atau tidak sama sekali
Kita bisa menjangkau waktu
dengan sisa umur dan angan
namun kedewasaan tak pernah tergenggam
oleh ilmu atau kebijaksanaan
Ia adalah entiti yang berdiri sendiri
hari ini merumuskan, esok terbantahkan
begitulah cara hidup bertransformasi
membentuk jaringan baru, ruang baru
mendobrak batasan, membangun kesadaran
kedekatan dengan Pencipta
Dua puluh sembilan tahun yang tak mudah
teman, sahabat, saudara, guru, siapapun
terima kasih telah memberi
keindahan yang tak putus
- 9 Juni 2017 -
Ketika berpikir mampu mengatasinya namun
hidup selalu menantang dengan pilihan
membakar pikiran dan kesabaran
Masa lalu bukan lagi milik kita
namun kegelapan selalu bisa tergantikan
apa yang terbenam hari ini akan terbit esok hari
atau tidak sama sekali
Kita bisa menjangkau waktu
dengan sisa umur dan angan
namun kedewasaan tak pernah tergenggam
oleh ilmu atau kebijaksanaan
Ia adalah entiti yang berdiri sendiri
hari ini merumuskan, esok terbantahkan
begitulah cara hidup bertransformasi
membentuk jaringan baru, ruang baru
mendobrak batasan, membangun kesadaran
kedekatan dengan Pencipta
Dua puluh sembilan tahun yang tak mudah
teman, sahabat, saudara, guru, siapapun
terima kasih telah memberi
keindahan yang tak putus
- 9 Juni 2017 -
Kamis, 09 Juni 2016
Antara Hitam dan Uban
selalu ada kisah antara tawa dan air mata,
gerak dan diam, ramai dan hening
kalut dan tegar, awas dan lepas
dalam seteguk nafas
yang entah batasnya
ruang waktu 28 tahun manusia
yang baru saja dituangkan
di atas kaktus perjalanan
dalam doa kami bergandengan
dalam sabar kami merangkak
dalam syukur kami bergumam
ini bukan akhirnya
dan juga bukan awalnya
mata kami pun beradu
menebak antara hitam dan uban
yang akan jadi pemenang
- rhariwijaya & Lusi Tofani -
gerak dan diam, ramai dan hening
kalut dan tegar, awas dan lepas
dalam seteguk nafas
yang entah batasnya
ruang waktu 28 tahun manusia
yang baru saja dituangkan
di atas kaktus perjalanan
dalam doa kami bergandengan
dalam sabar kami merangkak
dalam syukur kami bergumam
ini bukan akhirnya
dan juga bukan awalnya
mata kami pun beradu
menebak antara hitam dan uban
yang akan jadi pemenang
- rhariwijaya & Lusi Tofani -
Senin, 02 November 2015
Cermin #25 : Manusia Kanak-kanak
Tangannya terus bergerak seakan haus akan coretan. Jemarinya meliuk lincah mengikuti lengkungan yang dibuatnya di atas kertas. Tidak banyak warna yang tertoreh, hanya hitam pekat. Sayang kakinya tak sanggup mengikuti kegesitan imaji yang sudah tak sabar dituangkan, ditumpahkan, dipersembahkan. Layaknya seorang hamba yang siap berkorban jiwa raga untuk Penciptanya. Layaknya kekasih yang selalu menjaga kala malam, mencinta sebelum fajar sekaligus mendoa sedalam-dalamnya. Cahaya ruang itu kemudian berpendar, butir-butirnya membutakan kedua mata kami. Sedang lelaki tua itu telah pergi. Dan di ujung dermaga, kami harus menanti...
(untuk Pak Raden)
(untuk Pak Raden)
Minggu, 01 November 2015
Cermin #24 : Membaca Enam Tanda
Selalu ada cara untuk memahami ayat-ayat-Nya. Di ruang tamu yang berukuran
tiga kali tiga, delapan anak duduk melingkar dengan menyisakan satu tempat kosong. Tak lama kemudian guru mereka datang dan mengucap salam. Mereka
memanggilnya ummi. Kedatangannya menggenapi lingkaran itu menjadi utuh. Ummi
mulai membuka Al-Quran yang lembarannya sudah mulai kekuningan. Dengan dipimpin oleh ummi, mereka pun belajar mengaji bersama, membaca huruf demi huruf, ayat
demi ayat, surat demi surat. Mereka membaca dengan lantang dan jelas, walau bukan
dengan kedua mata mereka.
Selasa, 16 Juni 2015
Kedewasaan
Kematangan seseorang bukan dilihat dari kemampuannya bersikap tenang atau bijaksana bak pertapa Hastinapura, hingga karena stigma itu semua orang lantas "berpura-pura" bersikap matang. Tidak ada manusia yang benar-benar sempurna. Selalu saja ada emosi yang meletup atau kekhawatiran dan ketakutan yang membayangi, yang membuatnya ragu dan berpikir dua kali untuk mengambil keputusan. Kematangan adalah proses kesadaran bahwa manusia tidaklah sesempurna yang dipikirkan, cara berpikir bahwa manusia memiliki kelebihan sekaligus segudang kekurangan. Kematangan bukan menuntutnya untuk dapat menyelesaikan semua permasalahan, justru semakin sadar bahwa dia tidak mampu menyelesaikan masalah seorang diri, dia membutuhkan bantuan orang lain dalam hidupnya. Proses berpikir ini yang akan melahirkan sikap untuk saling menghormati dan menghargai, ego dikesampingkan dan bersama-sama untuk mencari solusi dalam suatu permasalahan. Kematangan juga memberi kesadaran mengenai skala prioritas, paham bahwa dia tidak mampu menyelesaikan masalah dalam satu waktu, perlu urutan yang benar menurut urgensinya, bukan berdasarkan subyektivitasnya terhadap masalah.
Kematangan menuntun seseorang untuk dapat mengambil keputusan dengan timing yang tepat, pengalaman membuatnya berpikir untuk tidak mengulangi kesalahannya dua kali, bukan untuk memuaskan semua orang, karena dia juga menyadari tidak ada keputusan yang bisa memuaskan semua orang dalam satu waktu. Namun dia akan berusaha agar keputusannya dapat diterima oleh semua pihak. Kalau begitu, kapankah seseorang disebut matang? Kematangan dan kedewasaan adalah sebuah proses tiada henti, manusia akan selalu jatuh bangun untuk mencapainya... Kesadaran yang dibangun hanya oleh satu orang saja tak akan berarti apa-apa. Prosesnya berlangsung sistemik, kesadaran yang satu akan mempengaruhi kesadaran yang lainnya.
Namun di luar itu semua, kematangan juga mengajarkan manusia bahwa semua yang dilakukan di dunia hanya untuk Tuhannya semata. dia akan menabrak semua teori dan konsepsi demi cintanya pada Tuhannya.
Kematangan menuntun seseorang untuk dapat mengambil keputusan dengan timing yang tepat, pengalaman membuatnya berpikir untuk tidak mengulangi kesalahannya dua kali, bukan untuk memuaskan semua orang, karena dia juga menyadari tidak ada keputusan yang bisa memuaskan semua orang dalam satu waktu. Namun dia akan berusaha agar keputusannya dapat diterima oleh semua pihak. Kalau begitu, kapankah seseorang disebut matang? Kematangan dan kedewasaan adalah sebuah proses tiada henti, manusia akan selalu jatuh bangun untuk mencapainya... Kesadaran yang dibangun hanya oleh satu orang saja tak akan berarti apa-apa. Prosesnya berlangsung sistemik, kesadaran yang satu akan mempengaruhi kesadaran yang lainnya.
Namun di luar itu semua, kematangan juga mengajarkan manusia bahwa semua yang dilakukan di dunia hanya untuk Tuhannya semata. dia akan menabrak semua teori dan konsepsi demi cintanya pada Tuhannya.
Langganan:
Postingan (Atom)