Label

Minggu, 23 Januari 2022

Berpijak

Rintik tak lagi datang dengan kata
Ia hanya bergumam dan memandang
Memberi isyarat tuk berbenah
dan di beranda itu kita bercanda
walau hatimu sedang lara

Engkau menawarkan keindahan
dari negeri atas awan
Dan aku masih saja berdiri
di atas tungku berduri
aku bergidik ngeri

Kakiku tak mampu lagi berpijak
Melihat kawanan embun yang berarak
dan angin yang memeluk sesak
Dinginnya merasuk dalam lubang hitam jantung
yang entah batasnya

Dalam semesta yang bersahaja
hampa pun menjelma mutiara
memberi tahta bagi harapan
bahwa seseorang layak untuk dicinta
dan juga mencinta
di atas realita

Namun sang mimpi masih punya kuasa
Temboknya begitu kokoh bertahta
Di atas tungku ini aku hanya bisa berdoa
agar ruhku tetap menjaga bara
agar kau bisa terus mengudara

Kita ialah kisah yang terlambat
yang tak semestinya tercipta
yang tak usai ku jalani
yang tak ingin ku ingkari
tanpa harapan tuk kembali

Tuhanku…
Kini ku tak mampu lagi mengutuk diri
atau berpura-pura mati
ku serahkan rasa ini pada-Mu
dalam kepasrahan dan kerinduan
tuk teguhkan iman dalam kasih-Mu
yang meluas bening dan hening
yang mengambang tenang di atas keraguan
hingga waktu memanggilku pulang…

Pangkal Pinang, 23 Januari 2022
- rhariwijaya -

Senin, 01 April 2019

Cermin #26

Pagi itu rintik ringan mengiringi prosesi keberangkatan. Mentari menyapa teduh, awan bernyanyi lirih. Satu persatu langkah kaki memasuki ruang kabin. Kiranya semua siap landas, tiga pemuda dengan rompi hijau dan penutup telinga bersigap. Dari dalam ruang kemudi, sang pilot memberi isyarat. Roda pun menggelinding menuju landasan. Dalam rintik yang menderas, seragam yang basah, ada yang membuat seorang pemuda tak beranjak melambai walau tugasnya tlah usai. Sebuah senyuman yang tak dapat ia temui lagi.

Kamis, 19 Juli 2018

Jelaga Tua

apakah hujan yang membuat kita
tersungkur dalam kemahsyuran
kala kelapangan menyimpan rindu
yang menghujam kala terpejam

apakah dingin malam yang meredam kelam
sang penuntun dalam gelap
hingga kita berdiri tegak menghadap
melindungi dari senyapnya tatap

apakah terik turut menjamu
kehadiran kita yang semu
pun mengukir kilatan memori
senyampang nyawa masih terjaga

nyalakanlah jelaga itu
biarkan segala tanya membara
meski hitamnya mewarnai jubahmu
ku ingin memanja sejenak
dalam jaringmu yang tak sudah

kita ada di sana kawan
di tengah gaungan air dan api
di sudut paralaks ego dan empati
di sangkar minyak kasturi

mungkin kau tlah melupakan
apa yang tak ingin kau ingat
maka kututup rapat-rapat
tak kubiarkan celahnya membuka tabirmu
hingga perjalanan kita usai
dan menunggu tuk kembali
pulang...

Palembang, 19 Juli 2018
- rhariwijaya -

Jumat, 09 Juni 2017

Dua Puluh Sembilan

Hidup tak pernah mudah
Ketika berpikir mampu mengatasinya namun
hidup selalu menantang dengan pilihan
membakar pikiran dan kesabaran

Masa lalu bukan lagi milik kita
namun kegelapan selalu bisa tergantikan
apa yang terbenam hari ini akan terbit esok hari
atau tidak sama sekali

Kita bisa menjangkau waktu
dengan sisa umur dan angan
namun kedewasaan tak pernah tergenggam
oleh ilmu atau kebijaksanaan

Ia adalah entiti yang berdiri sendiri
hari ini merumuskan, esok terbantahkan
begitulah cara hidup bertransformasi

membentuk jaringan baru, ruang baru
mendobrak batasan, membangun kesadaran
kedekatan dengan Pencipta

Dua puluh sembilan tahun yang tak mudah
teman, sahabat, saudara, guru, siapapun
terima kasih telah memberi
keindahan yang tak putus

- 9 Juni 2017 -

Kamis, 09 Juni 2016

Antara Hitam dan Uban

selalu ada kisah antara tawa dan air mata,
gerak dan diam, ramai dan hening
kalut dan tegar, awas dan lepas
dalam seteguk nafas
yang entah batasnya

ruang waktu 28 tahun manusia
yang baru saja dituangkan
di atas kaktus perjalanan
dalam doa kami bergandengan
dalam sabar kami merangkak
dalam syukur kami bergumam

ini bukan akhirnya
dan juga bukan awalnya
mata kami pun beradu
menebak antara hitam dan uban
yang akan jadi pemenang

- rhariwijaya & Lusi Tofani -

Senin, 02 November 2015

Cermin #25 : Manusia Kanak-kanak

Tangannya terus bergerak seakan haus akan coretan. Jemarinya meliuk lincah mengikuti lengkungan yang dibuatnya di atas kertas. Tidak banyak warna yang tertoreh, hanya hitam pekat. Sayang kakinya tak sanggup mengikuti kegesitan imaji yang sudah tak sabar dituangkan, ditumpahkan, dipersembahkan. Layaknya seorang hamba yang siap berkorban jiwa raga untuk Penciptanya. Layaknya kekasih yang selalu menjaga kala malam, mencinta sebelum fajar sekaligus mendoa sedalam-dalamnya. Cahaya ruang itu kemudian berpendar, butir-butirnya membutakan kedua mata kami. Sedang lelaki tua itu telah pergi. Dan di ujung dermaga, kami harus menanti...

(untuk Pak Raden)

Minggu, 01 November 2015

Cermin #24 : Membaca Enam Tanda

Selalu ada cara untuk memahami ayat-ayat-Nya. Di ruang tamu yang berukuran tiga kali tiga, delapan anak duduk melingkar dengan menyisakan satu tempat kosong. Tak lama kemudian guru mereka datang dan mengucap salam. Mereka memanggilnya ummi. Kedatangannya menggenapi lingkaran itu menjadi utuh. Ummi mulai membuka Al-Quran yang lembarannya sudah mulai kekuningan. Dengan dipimpin oleh ummi, mereka pun belajar mengaji bersama, membaca huruf demi huruf, ayat demi ayat, surat demi surat. Mereka membaca dengan lantang dan jelas, walau bukan dengan kedua mata mereka.

Selasa, 16 Juni 2015

Kedewasaan

Kematangan seseorang bukan dilihat dari kemampuannya bersikap tenang atau bijaksana bak pertapa Hastinapura, hingga karena stigma itu semua orang lantas "berpura-pura" bersikap matang. Tidak ada manusia yang benar-benar sempurna. Selalu saja ada emosi yang meletup atau kekhawatiran dan ketakutan yang membayangi, yang membuatnya ragu dan berpikir dua kali untuk mengambil keputusan. Kematangan adalah proses kesadaran bahwa manusia tidaklah sesempurna yang dipikirkan, cara berpikir bahwa manusia memiliki kelebihan sekaligus segudang kekurangan. Kematangan bukan menuntutnya untuk dapat menyelesaikan semua permasalahan, justru semakin sadar bahwa dia tidak mampu menyelesaikan masalah seorang diri, dia membutuhkan bantuan orang lain dalam hidupnya. Proses berpikir ini yang akan melahirkan sikap untuk saling menghormati dan menghargai, ego dikesampingkan dan bersama-sama untuk mencari solusi dalam suatu permasalahan. Kematangan juga memberi kesadaran mengenai skala prioritas, paham bahwa dia tidak mampu menyelesaikan masalah dalam satu waktu, perlu urutan yang benar menurut urgensinya, bukan berdasarkan subyektivitasnya terhadap masalah.

Kematangan menuntun seseorang untuk dapat mengambil keputusan dengan timing yang tepat, pengalaman membuatnya berpikir untuk tidak mengulangi kesalahannya dua kali, bukan untuk memuaskan semua orang, karena dia juga menyadari tidak ada keputusan yang bisa memuaskan semua orang dalam satu waktu. Namun dia akan berusaha agar keputusannya dapat diterima oleh semua pihak. Kalau begitu, kapankah seseorang disebut matang? Kematangan dan kedewasaan adalah sebuah proses tiada henti, manusia akan selalu jatuh bangun untuk mencapainya... Kesadaran yang dibangun hanya oleh satu orang saja tak akan berarti apa-apa. Prosesnya berlangsung sistemik, kesadaran yang satu akan mempengaruhi kesadaran yang lainnya.

Namun di luar itu semua, kematangan juga mengajarkan manusia bahwa semua yang dilakukan di dunia hanya untuk Tuhannya semata. dia akan menabrak semua teori dan konsepsi demi cintanya pada Tuhannya.

Senin, 15 Juni 2015

Manusia Tidak Bisa Lari dari Masalah

Manusia selalu dihadapkan permasalahan yang sama dalam situasi dan kondisi yang berbeda, hingga mampu bertahan dan melewatinya. Mencoba lari, maka masalah akan menemukanmu dalam wujudnya yang lain.

Minggu, 14 Juni 2015

Cermin #23 - Pesawat Kertas

Tepat sebelas malam di depan jendela kamar, tangannya masih asyik memainkan pesawat kertas, lalu diterbangkannya hingga tergeletak dan berserakan tak terhitung jumlahnya. Tak ada yang tau lantaran mengapa matanya tak kunjung terpejam. Yang dia tau, satu kehadiran bisa menggantikan ribuan kertas hijau, yang datang beserta sepucuk surat terakhir.

Jumat, 16 Januari 2015

Tirai Langit

bagaimana bola mataku kan bersaksi
dan telingaku kan memperdengarkan?

merdunya azan tlah diserukan
angin dititahkan tuk terhenti
burung-burung terbang rendah
menyanyikan lagu radiasi surga
menara dan gedung bersimpuh
bertasbih dalam geometrinya

orang-orang berbaris beraturan
pun ada yang masih berkeliling
mencari celah tiga hasta
yang masih tersisa di antara
ratusan ribu manusia

namun lelaki tua itu hanya berdiri
termenung satu langkah dari kiblat
kutuntun tangannya tuk menggapai
dan tumpahlah kerinduannya
seketika itu jua

Rabbana, rabbana...
inikah pancaran cahaya-Mu?
merasuk ke susunan syaraf manusia
merangkul semua doa sekaligus dosa
tuk Kau sucikan kembali

aku pun mendekat dan mendekap
tatkala seluruh isi dunia
tak lebih mulia dari selembar sajadah
yang telah basah dan luntur
oleh air mata yang bercucuran

ini adalah lingkaran-Mu
berotasi pada nama-Mu
bersujud hanya pada-Mu
hingga sumbu Bumi berhenti
dan tirai langit tertutup

- Jeddah, 14 Januari 2014 -

Selasa, 08 Juli 2014

Pemilihan Presiden RI 2014

Saudara-saudaraku,
Jangan biarkan ketakutan akan hal2 yang belum pasti terjadi mempengaruhi pilihanmu..
Ini semua masih persepsi, asumsi, kebenaran yang tidak mutlak..
Kebenaran yang mutlak adalah persatuan dan kesatuan bangsa..
Bersama bergandengan tangan membangun Indonesia yang lebih baik..
Siapapun pilihan kita memang akan menentukan nasib bangsa, tapi pilihan apapun yang kita buat akan sia-sia kalau yang satu merobohkan bangunan yang lain..
Agama jauh lebih agung daripada sekedar panggung politik, bukan alat untuk menyalahkan apalagi mencaci satu sama lain..
Akan lebih baik jika kita saling bertegur sapa, puji memuji, dan kasih mengasihi, dan nasehat-menasehati..
Bukankah itu inti dari ajaran agama kita?
Karena hanya Dia yang mampu membedakan yang baik dan buruk..
Karena hanya Dia yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang terang-terangan atau yang tersembunyi..
Tidak ada yang bisa menghina Tuhan, selain diri kita sendiri..
Haraplah, takutlah hanya pada Tuhanmu..

"Don't ask why we choose, but ask why you don't choose?"

- rhariwijaya, Jakarta, 9 Juli 2014 -

Kamis, 23 Januari 2014

Sinar yang Mengambang di Atas Kota

apa yang kau lihat dalam hujan?

di balik rintiknya
di tengah detiknya

sebagian dirimu menerka
dan bagian lain menggeliat
lalu kau membaca
dengan kata yang berkaca

"Ini ulah siapa?", gumamku pada mata
berjuta kubik air menggenang
beribu suara tenggelam, mengenang
selembar daun yang berupa hilang

apa yang kau dengar dalam hujan?

di awal hadirnya
di ujung tafsirnya

tangan kita sudah tak mampu
menengadah awan yang hening
mengarak horison yang bening

lantaran celana jeansmu terangkat
terlalu tinggi untuk menuding

matahari

yang tak pernah turun
pada luka-luka kotamu
pada doa yang senantiasa
terbaring pada sinar yang murung

- rhariwijaya -

Selasa, 14 Januari 2014

Cermin #22 - Tanpa Batas

Pagi itu berjalan seperti biasa, sampai seorang perempuan tua bermata satu datang ke rumah. Anak-anak ketakutan, hingga aku mengusirnya meski dia adalah ibuku sendiri. Pada suatu reuni teman lama, kudengar ibu telah meninggal. Dan tiba-tiba saja penglihatan, pendengaran, dan hati seperti lemari besi yang dibuka secara paksa. Oleh sepucuk surat yang berisi bagaimana aku bisa melihat indahnya dunia dengan dua mata.

Minggu, 20 Oktober 2013

Cermin #21 - The Masterpiece

Ada yang memperlihatkan wajahnya, ada yang menutup tirainya, ada yang mengetuk-ngetuk dahinya, begitu juga ada yang menyeka air matanya. Sudah tiga puluh menit pertunjukan berakhir, gedung sudah sepi. Namun di rumah-rumah, di trotoar-trotoar, di mimpi-mimpi, delapan ratus lidah, mencoba menghela dan mencerna, bagaimana hujan menyeka duka tentang daun yang gugur demi daun lagi.

Sabtu, 05 Oktober 2013

Formatio Retikularis

kesadaran seperti embun
yang menempel pada waktu
tercecap oleh rasa pahit
lenyap dalam gerimis selesma

kesadaran ada dalam keheningan
bukan sepi atau senyap malam
tapi ruang dimensi tersendiri
yang tertanam sedalam hati

manusia mengejar kedamaian
namun tak banyak yang sadar
apa yang mesti dipenuhi
dan apa yang mesti dilepaskan

jika arti melepas adalah hilang
tak ada yang bisa memenuhi apapun
karena melepas berarti meniadakan
apa yang tak lagi mampu kita miliki

satu selalu menggenapi
namun jika dua bisa membunuh
akankah kau gapai tiga?
akalmu menunjuk rasamu menuntun

Jakarta, 6 Oktober 2013

- rhariwijaya -

Jumat, 03 Mei 2013

Kaktus

Hidup ini aneh, ketika kita ingin menjadi kuat, justru yang kita hadapi adalah kelemahan, ketika kita ingin menjadi berani, yang kita hadapi adalah ketakutan. Lalu aku belajar membaca tanda-tanda alam, belajar bagaimana seharusnya kita bereaksi terhadap teori kemapanan dan hukum-hukum ketidakpastian, namun yang aku temui adalah sekumpulan ironisme yang semakin membuatku bertanya tentang siapa sebenarnya diriku, apa arti mereka untukku, bagaimana Tuhan bisa hadir dalam setiap peristiwa sekaligus kekosongan, dalam setiap tawa sekaligus duka, dan dalam setiap kelembutan sekaligus kekeringan.

Kalau saja sebuah senyuman bisa membuat peluru menjadi mawar, maka seharusnya tidak perlu lagi ada tangis dan air mata. Tapi kita juga belajar untuk semakin menyadari bahwa keterbatasan selalu membentengi diri. Menurutmu bagaimana jika batas kaki langit tertutup awan? Sedang kamu tidak menyadari bahwa awan hanya ilusi yang terionisasi. Tuhan menciptakan ketakutan agar kita bisa belajar menjadi berani dengan melawan, dan Tuhan menciptakan kelemahan agar kita bisa mengambil makna dari setiap ketidakberdayaan, lalu menampar diri, bangkit menjadi lebih kuat.

Kedamaian ada karena kekuatan, tapi kekuatan tanpa kedamaian, untuk apa..

Jakarta
- rhariwijaya -

Minggu, 03 Februari 2013

A Piece of Serenity

Did we realize something about war?
It's not about killing people, use any kind of tactics or strategies or anything to win.
War that caused by different faith, religion, territory, revenge, and everything that can be used as reasons.

Even if we won, did we think it was over? Not yet..
We have our childrens that will pass our faith.
Even if we died, they would do the same as we did, war against our enemies for the revenge.

How can we defeat others before we can defeat ourselves first?
Did we realize how suffer someone who saw the ones their love died in front of him/her directly?
The pain that we never felt before, how come we used that words to understand each others?

We said that it was for peace, but our heart never felt any kind of serenity..

Minggu, 27 Januari 2013

Pelangi Pernah Mati

jika bukan esok atau nanti
biarkan mata jadi belati
dan jawabnya yang menyeringai
menghunus tanpa henti

maka pada suatu pagi
bangunkan aku di atas peti mati
agar bisa ku ingat sendiri
bagaimana hujan pergi

bagiku melihat pelangi
bukanlah tempat rekreasi
atau meminta konsesi
apalagi menguji nyali

namun kau tunggu mentari
terbuai dalam kursi
melamun menembus memori
padahal itu hanya teori

belumkah kau menyadari
namamu tak ada arti
seperti kapas berduri
yang melambai pada kanji

sayang membuka pintu perangai
tak semudah mengikat tali
pada kata yang terpatri
di tengah galaksi

harus aku cari
ada yang mesti dikaji
muntahan ekskresi
yang tak perlu dibui

Rabu, 16 Januari 2013

Cermin #20

Sungai itu mengalir tenang seperti biasanya, seolah menunjukkan keramahan alam di antara kayu dan plastik. Seorang anak berdiri, menatap kosong di pinggirnya menikmati dinginnya hujan di atas atap rumahnya.