Label

Selasa, 27 September 2011

Cermin #14

Malam ini tak ada bintang seperti biasa. Tertutup oleh neon jingga, mengarah ke sudut ini, sedang aku tak mampu berpindah. Ngengat dan jangkrik ingin menghibur, tapi sia-sia. Malam pertama, di balik jeruji, berharap masih bisa melihat cahaya-Nya. Apa mungkin menghapus darah dengan air mata?

Sabtu, 24 September 2011

Cermin #13

Ledakan yang cukup memekakkan telinga. Sopir langsung membuka pintu samping dan depan. Pun ada yang memecahkan kaca dalam keadaan darurat ini. Semua harus segera keluar. Beberapa anak muda terjatuh, seorang ibu pingsan, seorang kakek menggedor pintu bus lain yang lewat, menyelamatkan diri. Semua PANIK!

Tak ada asap, hanya sebuah ledakan angin dari pintu bus otomatis. Korban luka dan trauma berjatuhan.

Kamis, 22 September 2011

Perjanjian Firdaus

"Firdaus akan memlilih siapa yang pantas untuknya."

Ibu sering bersenandung seperti bernyanyi saat maghrib tiba. Kulihat dia membungkuk, lalu bersujud. Di sekolah aku selalu diajari untuk menyalakan lilin, berlutut, tangan menggenggam, mata terpejam, lalu memanjatkan doa tepat di depan patung Tuhanku. Sebuah perwujudan sosok yang sungguh aku agung-agungkan. Lalu aku menyanyi bersama teman-teman, itulah cara kami untuk mengagungkan-Nya. Aku sering mendengar tentang agama itu, tapi baru kali ini aku melihatnya secara langsung. Di depan mataku, oleh ibuku sendiri, di rumah.

 Ayah yang pergi sudah bertahun-tahun di luar pulau tanpa ada kabar pasti, kiriman uang yang tak tentu jumlah dan kapan datangnya, dan sepertinya ibu sudah cukup tersiksa mengenai kabar burung itu. Sentilan para tetangga dan keluarga ayah sering kali membuat ibu mengunci diri di kamar, lalu keluar seperti tak terjadi apa-apa. Terkadang sikap orang dewasa memang sulit untuk dimengerti oleh anak 10 tahun. Sejak itu ibu kembali ke agama sebelum beliau memutuskan untuk menjalani kehidupan dengan ayah. Ketidakjelasan ini juga membuatku semakin jengah setiap minggu harus pergi "sekolah minggu" tanpa ada ayah yang biasanya selalu menuntun. Lebih tertarik aku menonton power ranger tiap minggu pagi yang menjadi tontonan favorit untuk anak-anak. Sampai pada akhirnya aku berhenti total untuk tak lagi menjalani aktivitas kerohanian itu.

Pagi itu kulihat ibu sedang membaca kalimat-kalimat yang begitu asing seusai sembahyang di kamar dengan pintu yang terbuka. Aku yang sedang asik menonton TV di ruang tengah, sesekali mengamati, lalu membuang muka ketika Ibu mendapati arah dan maksud pandanganku. Setelah tak kudengar lagi beliau membaca, kukeraskan saja volume TV. Tanpa kusadari, ternyata ibu sudah berada di sampingku. Ikut menonton kartun bersama. Setelah selesai, beliau seakan bisa membaca rasa penasaranku pada kalimat-kalimat itu.
"Ini cara Ibu berdoa." sambil menunjukkan buku berisi bacaan yang tak kupahami. Ada rasa enggan untuk membacanya, tapi lagi-lagi ibu selalu bisa memahami apa yang sebenarnya dipikirkan anak laki-lakinya.
"Tak apa, kamu bisa membaca artinya dulu."

Begitulah awal perkenalanku dengan agama ibu. Begitu halus, tak kasat mata. Entah kenapa aku menjadi seperti ketagihan. Lalu aku bertanya-tanya mengenai konsep Ketuhanan. Logikaku semakin liar, tapi juga semakin tunduk, bukan untuk tertidur, tapi untuk terus mencari. Berawal dari mengerti arti, lalu membaca latin, hingga mencoba iseng untuk menghafalnya. Memang terdengar aneh, tapi itulah yang terjadi. Hal ini berlangsung selama beberapa bulan. Semua berjalan lancar, sampai pada suatu malam, ayah datang, kujatuhkan mainanku dan segera memeluknya. Dia mencium lembut ubun-ubunku, diusapnya berkali-kali rambutku, tampak sekali kerinduan yang dalam juga sedang dilampiaskannya. Malam itu, adalah yang paling membahagiakan buatku. Ayah kebanggaan, dan tak kan kulepas lagi.

Dari ruang tengah, samar tapi cukup jelas aku mendengar ayah dan ibu berdebat di kamar mengenai apa yang sudah aku pelajari. Sepertinya ayah kurang suka aku belajar agama lain. Aku masih belum memeluknya, hanya sekedar belajar menambah ilmu saja. Sama sekali tak pernah terpikir bagiku untuk memeluk. Tapi kenapa sepertinya ayah kurang suka?

"Jadi Mas pulang hanya untuk mengatakan ini?"
"Ya, aku masih ada proyek. Harus berangkat besok."
"Aku tahu apa yang sebenarnya sedang kau lakukan dan bersama siapa di sana." ayah tampak sedikit terkejut, tapi tak lama kemudian raut wajahnya menjadi sinis.
"Baguslah, nanti akan segera aku urus soal kita."
"Aku tak peduli lagi tentang kita, tapi anak itu butuh ada yang mendampingi, aku sudah tak sanggup."
"Lantas kau biarkan dia sesat dengan agamamu itu?!" nadanya meninggi.
"Biarkan dia sendiri yang memilih." kata-kata ibu yang pelan namun sangat kental ketegasannya.
"Tidak! Anak itu masih terlalu kecil untuk berpikir. Aku tak rela dia memeluk agamamu!
"Lalu, kau biarkan dia kebingungan dengan agamamu?" sebuah pertanyaan yang membuat ayah tak tahu harus menjawab apa.
"Ingat, kalau sampai aku dengar kabar tentang kebodohan ini terus berlanjut, tak sesen pun akan kukirimkan untuk kalian!"

Aku mengintip dari celah pintu. Terlihat ekspresi wajah ibu begitu sedih dengan sesekali isak tangis. Pertama kali aku melihat ibu meneteskan air mata. Amarahku mulai mengental, tak terima atas perlakuan ayah pada ibu. Kukepalkan tangan erat-erat. Kubuka pintu cukup keras untuk mengagetkan mereka. Dengan tetap berdiri di pintu kamar, hanya kata-kata sederhana yang bisa aku ucap, lantang.

"Ayah, kenapa aku belum dibaptis?!"

Malam adalah kepulangan sekaligus kepergian untuk tak kembali lagi. Itulah kenapa aku benci sekaligus merindukan malam. Tapi aku yakin, selalu ada pagi di balik selaput malam.

Jakarta, 23 September 2011
- rhariwijaya -


Rabu, 21 September 2011

Untuk Apa Kita Menulis?

Menulis itu proses menemukan diri sendiri. Belajar dari penulis-penulis yang lain, berbagi, membaca, mendalami, lalu melahirkan tulisan-tulisan baru. Mempertanyakan kembali asumsi yang sudah kita anggap benar. Tak semua yang kita pikir perlu ditulis, tapi semua yang kita tulis adalah hasil pemikiran dan pengalaman.

Kesimpulannya, lalu untuk apa kita menulis?

Cermin #12

"Tak perlu kau khawatir Ibu, anak laki-lakimu ini sudah besar. Sudah saatnya Ibu duduk manis, biarlah aku yang menjagamu kini. Membasuh kaki, mengusap keringat, menampung air mata, sebelum aku merantau. Menemui takdir yang sudah dijanjikan Tuhan untukku."

Firasat Ibu, adalah pertanda Tuhan. Keyakinan anak laki-laki, adalah takdir Tuhan. Ibu yang tak siap kehilangan, anak yang harus melangkah.

"Ini, bakti terakhirku, Ibu."

Cermin #11

 Pikiranku semakin jengah, setiap pilihan tempat makan selalu ditolaknya dengan berbagai alasan. Tak mau yang murah, tak mau yang mahal, pun tak mau yang sederhana. Tak habis pikir lagi apa mau perempuanku ini. Segera ku menepi, diam. Ku pandang matanya, sebuah isyarat, hanya kami yang tahu. Dia.. tersenyum..

Selasa, 20 September 2011

Cermin #10

Tak banyak yang bisa dilakukan pelukis selain mengalami, berimajinasi, kemudian menggores pada kanvas. Seorang kurator kagum, tertarik membeli, harga tak jadi soal, lalu bertemu sang pelukis. Kurator bertanya, bagaimana dia bisa melukis sebagus itu. Pelukis itu lalu mengajaknya keluar, berhenti di suatu tempat, lalu menunjuk pada dua buah batu nisan.

Cermin #9

Penantian di atap rumah. Ku tunggu waktu hingga tepat pukul 12 malam. Bersama bintang, pejamkan mata, haturkan keinginan, berharap ada bintang jatuh. Semoga ada yang seperti Ursa, Lyra, Cygnus dan Corvus yang setia pada Virgo. Ayah Ibu pun sudah tak mampu lagi menemani. Cukup lama aku terpaku hingga teriakan, cacian, tepung, dan telur busuk nyaris membunuhku seketika itu juga. BRENGSEK!!!

Ya, mereka teman-temanku...

Cermin #8

Akulah teman setiamu di sini, kutunggu hingga waktu itu tiba, dan sembari ku kirim anak-anakku padamu. Mereka selalu berbisik, terkadang menunjuk, bahkan tak jarang memeluk. Begitu hangat dan romantis. Kukirim surat cinta ini hanya untukmu.

Jahannam, 19 Nopember 2011

Tertanda,
- Yang Terkutuk oleh Tuhan -

Cermin #7

Anak itu periang, namun nilainya di kelas menurun akhir-akhir ini. Sering dimarahi karena tak jarang beranjak dari tempat duduknya di belakang, untuk melengkapi catatan. Sang ibu pun melarangnya bermain, pengawasan diperketat disertai beberapa cubitan kecil yang cukup membuatnya menangis. Berlangsung beberapa bulan, hingga akhirnya sebuah kacamata membuat anak itu diam, tak beranjak dari kamarnya, malu.

Cermin #6

Pagi itu terasa berbeda, udara pagi yang segar, seperti benar-benar menembus dan merasuk ke setiap relung jiwanya. Semua tampak cerah dan sedikit menyilaukan. Ringan dan ingin terbang menembus cakrawala. Sampai dia melihat tubuhnya sendiri sedang terbaring di tempat tidur, dan ayah ibunya yang sedang menangis di sampingnya.

Cermin #5

Gina melihat orang-orang menunjuk, melapor, mengeluh di facebook. Status menjadi seperti diary. Lalu dia membuka sedikit tirai jendela kamarnya. Melihat orang lalu lalang di depan rumah. Satu-satu diamatinya, hingga pandangannya tertuju pada kakek yang membuang bungkus nasi di selokan, lalu pergi melewati tong sampah tiga meter di depannya.

Cermin #4

Subuh - subuh perempuan itu tersedu di sebuah halte. Seseorang melangkah lalu berhenti tepat di depannya. Dengan air mata perempuan itu bertanya. Sosok itu memberinya secarik kartu nama lalu pergi begitu saja. Wajah sinis tergambar jelas di wajah cantiknya. Tapi itu tak bertahan lama setelah dia bisa mengeja kata I-Z-R-A-I-L.

Cermin #3

Seorang lusuh, dengan topi bambu, safari cokelat yang sudah tak tertahankan baunya beserta celana jins pendek dengan beberapa robekan di sana sini. Aku sapa, memberi senyum sekaligus tanda tanya. Bagaimana orang-orang berdasi mengusirnya, sementara dia yang memberiku posisi sebagai wakil presiden direktur di perusahaan ini.

Cermin #2

Dia hanya berdiri memandang teman-temannya bermain kelereng. Tak nampak mereka mengajak atau menoleh padanya. Bukan karena ia tak mau atau tak mampu. Tapi karena ia berharap bisa bermain dengan jari kakinya.

Cermin #1

Seorang anak laki-laki yang selalu diejek dan dimusuhi teman-teman sepermainannya. Tak ada tangis, tak ada rengekan. Bahkan hingga penyakit aib itu mulai menggerogoti semua panca indera, setelah menyantap habis ayah ibunya. Sambil memandang senja, dia berkata pada sosok yang sudah menunggunya sejak adzan ashar, "Aku ikut kau saja."

Selasa, 13 September 2011

Rembulan Saga

“Kau tau aku semakin bingung melihat perlakuan lelaki itu.” dengan mata yang mulai berkaca, tubuhku pun ikut bergetar geram.
“Aku takut. Takut terjadi sesuatu kepada ibu dan Daru.” tatapan yang begitu dalam, sangat terlihat lelah hidupku tak berkurang sedikitpun.
Dinding itu hanya terdiam, bahasa tubuhku pun begitu. Tak ada yang mampu kulakukan.
Kamar tiga kali tiga ini sungguh gerah di malam pekat. Sangat tak bersahabat.
Sebuah kepalan tinju kembali mendarat di lemari pakaian yang terbuat dari triplek.
Kembali pecah dan berlubang.
“Paling tidak, tunjukkan padaku kalau Engkau adalah Tuhan.”

Sayup-sayup kembali terdengar suara tawa ibu dengan lelaki botak berkumis tebal di ruang tamu.
Tanpa berusaha lagi berkompromi dengan hati, kuambil tongkat baseball pemberian almarhum ayah.
”Mati kau saat ini juga.” Derik hati bergetar.
Mataku memerah, nafas berdesah tak beraturan, sengau. Kubuka pintu tua lusuh itu berbunyi derik. Keluar dari kamar menuju kamar tamu tempat ibu dan lelaki tua berada.
“Mati kau saat ini juga!!!” Aku menjerit lantang, keringat memandikanku. Tubuh pun mengekar marah. Sangat terlihat bahwa aku sedang dalam kondisi tak terkendali. Pitam.

Aku arahkan tongkat itu tepat ke samping kiri telinganya. Tapi refleks lelaki itu lebih cepat, dia ambil nampan aluminium di depannya, lalu menangkis pukulan tongkat itu dengan nampan yang digenggam kedua tangannya.
“Brengsek…”, tak hilang akal kuhantam nampan itu dari arah bawah hingga kedua tangan lelaki itu tak mampu lagi menahanya, nampan itu pun terlempar ke udara, dia mundur beberapa langkah hingga ke sudut ruangan, kini dia benar-benar tanpa perlindungan dan sangat ketakutan.
“Mati kau!”
“Heru!!!”, suara Ibu menghentikan gerakanku, tapi tidak untuk amarahku. Dia menghampiri, menatap dalam-dalam mataku, lalu entah bagaimana tongkat baseball itu sudah ada di tangan Ibu. Nafasku masih tersengal, lahar yang ada dalam tenggorokan ingin kumuntahkan saja. Sementara laki-laki itu tampak sedikit lega dan hanya bisa terdiam di sudut ruangan.

“Kenapa Bu?! Kenapa harus laki-laki ini?!”
“Anak bodoh! Kau sama sekali tak tahu apa yang kau lakukan!”
“Heru memang bodoh, tapi Heru masih punya harga diri! Ibu tak tahu kalau dia termasuk komplotan pembunuh ayah?!”
“Ibu tahu.”
“Lalu kenapa Bu?”, nadaku agak melemah, penasaran apa yang membuat Ibu masih bertahan dengan laki-laki itu.
“Kau tak perlu tahu Heru, kau tak perlu tahu.”

Segera ku hampiri laki-laki itu lalu kutarik kerah bajunya, hingga ia kesusahan untuk bernafas.
“Laki-laki brengsek! Kau racuni apa Ibuku?!”, lantang mulutku di depan matanya sambil kupukul keras-keras tepat di ulu hatinya. Sedikit puas melihat lelaki tua itu meringkuk kesakitan.
Perlahan Ibu menarikku kembali, menjauh beberapa langkah dari laki-laki itu.
“Heru, kau tak ingat pesan ayahmu?”
Memoriku kembali berpendar, dengan amarah masih tersengal aku mencoba memberi Ibu pengertian atas pelajaran yang harus aku berikan pada laki-laki botak dan berkumis tebal itu. Sebuah pelajaran yang tak kan pernah ia lupakan.
“Tugasku adalah menjaga Ibu… terlebih dari tangan laki-laki brengsek…”
“Cukup…”, telunjuknya mengatup rapat-rapat mulutku. Udara di sekitar kami mencoba memeluk dalam simfoninya, meredam apa yang terbuka, menguak apa yang tak terlihat.

Lalu kami berdua mulai berkata-kata… bersama…

“Sebuah keluarga… yang utuh…”

Suasana menjadi hening, sukmaku larut dalam kata-kata ayah. Keinginan kecil ayah sebelum peluru panas benar-benar merenggut nyawanya.
“Ibu sedang belajar memaafkan sekaligus mencintai, tak mudah, tapi harus.”, kata-kata itu seperti parfum malaikat, memadamkan semua amarah dan lahar di tenggorokan, pitam telah menjadi serotonin dalam sel otakku. Aku hanya bisa terduduk di sofa dan membisu.
Aku termenung…
“Apa yang baru saja aku lakukan…”

DOORRR!!!!

Terdengar suara tembakan tak jauh dari tempat dudukku. Kulihat darah segar nan anyir mengalir dari kepala laki-laki tua itu, matanya terbelalak, tubuhnya terduduk di sudut ruangan, kaku dan tak bernyawa. Aku dan Ibu benar-benar terkejut, tak kami lihat seorangpun pelaku penembakan ini, setidaknya di depan rumah. Logika kami mulai bicara, tak ada orang di depan rumah, dan luka tembakan pada laki-laki tua itu ada di pelipis kanannya.

“Daru!!!”, teriak aku dan Ibu bersamaan.

Aku dan Ibu segera bergegas ke kamar, terlihat Daru sedang mengarahkan pistol pembunuh ayah yang disimpannya dengan diam-diam itu di pelipis kanannya.

air matanya…
jatuh hanya satu tetes saja…
sejak kepergian ayah…
apa yang terbungkam, kini tersenyum...

“Ayah… Daru datang…”


(Jakarta, 13 September 2011)
- rhariwijaya & Yaumil Fauzi Gayo -

Minggu, 11 September 2011

Scums

"We are the same, scums that make differences are our assumptions." - rhariwijaya -

Senin, 05 September 2011

My-Opia

Tinggal 2 jam lagi saatnya meninggalkan ruangan membosankan ini, terlebih penjualan sudah semakin menurun. Suhu ruangan pun semakin memanas, seolah tiga AC sudah tak mampu lagi mengerjakan tugasnya. Aku dan dua karyawanku tak lebih dari tape recorder yang terus membunyikan nada dan kata yang sama pada setiap pelanggan yang datang dan pergi, tanpa membeli apa pun. Stok kacamata tak berkurang jumlahnya sejak dua bulan yang lalu, jadi memang sengaja tak menambah persediaannya untuk bulan ini. Semua siasat dan strategi penjualan sudah aku coba, puluhan buku tentang marketing sudah khatam, konsultasi ke ahli marketing setiap minggu juga sudah, poling mengenai kualitas produk pada pelanggan hasilnya juga bagus. Lantas mengapa tak ada yang tertarik untuk membelinya?

Tepat 30 menit sebelum jam pulang..
"Mas, saya mau lihat model kacamata yang di etalase, ehm.. Valentino."
"Kalau yang itu untuk perempuan."
"Kalau begitu yang Nike aja Mas. Ya, yang itu."
Tampak sekali raut muka kepuasan seolah menemukan belahan jiwa yang tlah hilang selama ini. Sebuah kacamata yang bisa menyempurnakan penampilannya. Ini dia, bagaikan tetesan air telaga yang sudah aku nanti-nantikan.
"Ehm… Mas, ini kok agak kecil ya? Ada ukuran yang lebih besar"

Not again... Stok dari pusat yang ada hanya ukuran itu saja, aku sengaja tidak menambah untuk ukuran yang lain karena itulah ukuran yang paling umum. Kalau tak cocok dengan anak muda itu, hanya sebagian kecil dari jumlah pengguna kacamata pada umumnya. Tak masalah jika tak menuruti ukuran anak muda itu, tak mungkin aku mengorbankan strategi yang sudah aku susun sedemikian rupa hanya untuk kaum minoritas seperti dia. Dalam hati aku bergumam, salahmu nak kau punya ukuran kepala lebih besar. Setelah pause beberapa detik, aku mencoba mencari-cari penjelasan yang tepat agar dia jangan sampai pergi dengan tangan kosong.

"Maaf, dari lensa kacamata yang anda gunakan sekarang, sepertinya minusnya sudah tinggi ya?"
"Ya, minus delapan Mas."
"Begini, ada dua hal yang harus dipertimbangkan dalam membeli kacamata, model dan ukuran lensa. Karena minus anda sudah tinggi, otomatis lensanya akan sangat tebal, terlebih ini bahannya plastik, penipisan 40 persen pun tidak terlalu signifikan. Dengan model kacamata yang anda pilih, tentu akan sangat terlihat ketebalannya. Bagaimana jika anda pilih model yang ini saja, ukurannya pas dan tidak akan terlihat tebal lensanya."
"Ehm, tapi Mas, saya mau model yang itu, apa gak ada ukuran yang lebih besar ya?"
"Untuk model itu memang hanya satu ukuran, anda harus memilih antara model dan kesesuaian lensanya, ndak bisa memaksakan model yang bagus dan lensa yang sesuai."
"Owh, gitu ya Mas, kalau di cabang yang lain kira-kira ada yang cocok gak ya?"
"Dimana saja, sama saja, model atau ukuran lensa."
"Ok deh, lihat-lihat dulu ya Mas. Trims."

Habis... Semua penjelasan itu menghabiskan waktuku di toko untuk hari ini, dan hasil yang sama seperti sebelum-sebelumnya. Gila! Apa yang salah dengan semua strategi ini?! Kulepas sejenak kacamata yang sudah bertenger di hidungku selama seharian ini, dengan kesadaran yang telah takluk pada amarah, kutatap dalam-dalam kacamata itu, lalu kulempar ke salah satu sudut ruangan. Tak puas, lalu kuinjak hingga tak jelas lagi bentuknya. Dua karyawanku tak berani bergerak, bahkan tak punya nyali untuk sekedar menatapku.

"Ka.. kami pamit dulu Pak.."

Mereka sudah tau jika aku sudah dalam kondisi seperti itu, respon apapun justru semakin menambah amarahku. Tindakan terbaik adalah membiarkan aku sendiri, itu saja. Aku pulang terakhir, otomatis aku yang mengunci toko sebelum gerimis di luar menyapaku. Terlihat beberapa "ojek hujan" oleh anak-anak jalanan. Seorang dari mereka menawariku sebuah payung. Aku menatapnya dengan sinis, lalu meninggalkannya begitu saja, menerobos gerimis yang tak kuanggap perlu lagi untuk dihindari. Gerimis yang telah menyatu dengan air mata.

Su-dah tak per-lu la-gi ber-te-duh..

Langkahku terhenti pada sebuah kursi tepat di samping lampu taman. Hujan dan senja mendukung alur yang semakin menyesakkan ini. Air mata dan hujan yang saling berebut kursi di lapisan kornea, semakin memudarkan atas logika yang aku agung-agungkan selama ini. Hujan sore ini cukup lama untuk membuat sebatang beringin muntah dan seekor ikan bingung berada di sungai atau selokan.

Hingga kusadari payung corak bunga krisan kuning, berdiri mengamati dengan tatapan pemecah lamunan. Digenggamnya payung itu dengan tangan kecilnya, lalu dengan perlahan dia mulai mendekat, dan masih dengan tatapan yang sama, tanpa bicara sepatah kata pun. Dia pasti salah satu dari para “ojek payung” itu.

"Sudah kubilang pada temanmu tadi, aku tak butuh payung."
Berharap dia tak lagi berdiri di sana. Tapi dia malah semakin menguatkan genggamannya.

"Kau tak dengar, aku tak butuh payung!"
Kali ini dengan nada sedikit lebih keras dan tegas. Dia hanya menunduk, sama sekali tak bergerak, lalu kembali ditatapnya aku, kali ini dengan tatapan yang berbeda dengan sebelumnya. Bukan tatapan kesedihan ataupun tatapan pengemis, entah bagaimana aku menyebutnya, begitu tajam dan dalam. Hei, kau yang butuh aku, bukan aku yang butuh kau, jadi untuk apa kau seperti itu? Gumamku dalam batin, tak pernah seumur hidup ada gadis kecil dengan ketegaran seperti itu. Aku dibuatnya takjub setengah mampus!

"Pergi Kau! Aku tak butuh payungmu! Kau dengar?!"
Kupikir nada yang sangat keras seperti itu sudah membuatnya jera dan segera lari.
Tapi untuk ketiga kalinya... aku salah...

"Goblok! Kau tuli?! Aku tak butuh payung! Pergi, pergi, PERGI!"
Tak tanggung lagi ku tendang genangan air di depanku berkali-kali hingga benar-benar membuat rambut dan wajahnya menyatu.
Dia mundur beberapa langkah, akhirnya kali ini aku berhasil. Tapi tak jauh langkahnya berhenti dan berbalik kembali menatapku. Krisan kuning itu dilipat dan digenggam dengan tangan kirinya, kaki kecil itu berjalan ke arahku, semakin dekat hingga baunya dapat kurasakan masuk ke tenggorokan. Digenggam tangan kananku dengan tangan sebelahnya, dengat sedikit isyarat, aku menunduk hingga tanganku menyentuh lumpur di antara kaki kami. Lalu diusapkannya, hingga rambut, wajah dan lumpur tak ada beda.
Mulut dan badanku hanya bisa menurut, entah kenapa. Bahkan untuk menelan ludah saja aku tak sanggup. Dalam beberapa detik kami mematung, terdiam, menatap pertanyaan, menjawab dusta.

ka-mi ber-te-mu a-ir

Aku memang sudah mengguyur habis wajah dan rambutnya, tapi dia telah membanjiri otakku dengan beberapa pertanyaan dan seribu kemungkinan.

Si-a-pa ka-mu
A-pa ya-ng ka-mu i-ngin-kan
Ba-gai-ma-na bi-sa
Ba-gai-ma-na mung-kin
Ke-bo-doh-an ma-cam a-pa

Dikembangkannya lagi krisan kuning itu, lalu ia pergi begitu saja melewatiku, sedang aku masih saja mematung, merangkai lumpur di tangan.

“Hei, kamu, tunggu!”

Dia menghilang setelah ku berbalik, tapi ingatan itu terus berpendar di ruang kaca yang terus mencari sudut terbaik untuk direfleksikan. Yang dia tinggalkan hanya pertanyaan mengenai lumpur dan krisan kuning. Pertanyaan yang beranak pinak menjadi asumsi dan pertanyaan baru… sudut pandang baru… tentang pemikiran… tentang kacamata… yang ada di hati…

“Aku memang tak butuh payung… aku butuh kau…”

(sebuah ingatan, sebuah cerita…)

- rhariwijaya -